JAKARTA — Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) merupakan lembaga perwakilan yang memiliki tiga fungsi utama dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, yakni legislasi, anggaran, dan pengawasan.

Ketiga fungsi tersebut tidak hanya dijalankan melalui rapat paripurna. Sebagian besar proses pembahasan berlangsung melalui komisi, badan, fraksi, panitia kerja, panitia khusus, serta berbagai rapat bersama pemerintah dan lembaga terkait.

Konstitusi menegaskan bahwa anggota DPR dipilih melalui pemilihan umum. DPR juga memegang kekuasaan membentuk undang-undang dan setiap rancangan undang-undang dibahas bersama Presiden untuk memperoleh persetujuan bersama.

Karena itu, memahami cara kerja DPR berarti memahami bagaimana mandat pemilih diterjemahkan menjadi proses legislasi, penganggaran, pengawasan, sekaligus keputusan politik di parlemen.

Apa Fungsi DPR?

Pasal 20A ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyebutkan bahwa DPR memiliki tiga fungsi, yaitu fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Konstitusi juga memberikan DPR hak interpelasi, hak angket, dan hak menyatakan pendapat.

Ketiga fungsi tersebut memiliki ruang kerja yang berbeda.

Fungsi legislasi berkaitan dengan pembentukan undang-undang.

Fungsi anggaran berkaitan dengan pembahasan dan persetujuan anggaran negara.

Fungsi pengawasan berkaitan dengan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang, kebijakan pemerintah, dan pengelolaan keuangan negara.

Dalam praktiknya, ketiga fungsi tersebut saling berhubungan. Sebuah kebijakan pemerintah, misalnya, dapat membutuhkan dasar hukum melalui undang-undang, pembiayaan melalui APBN, dan pengawasan dalam pelaksanaannya.

Bagaimana Cara Kerja DPR?

Cara kerja DPR berlangsung melalui berbagai alat kelengkapan dan forum persidangan.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD atau UU MD3 menjadi salah satu dasar pengaturan mengenai mekanisme kelembagaan DPR. Undang-undang tersebut telah mengalami sejumlah perubahan, antara lain melalui UU Nomor 2 Tahun 2018 dan UU Nomor 13 Tahun 2019.

Dalam struktur kerja DPR terdapat komisi dan berbagai alat kelengkapan lain. Komisi menjadi salah satu ruang utama bagi anggota DPR untuk membahas persoalan sektoral bersama kementerian atau lembaga mitra kerja.

Sementara rapat paripurna menjadi salah satu forum pengambilan keputusan DPR.

Dengan demikian, keputusan yang terlihat dalam rapat paripurna umumnya merupakan hasil dari rangkaian pembahasan yang berlangsung sebelumnya.

Apa Itu Komisi DPR?

Komisi DPR merupakan alat kelengkapan yang membidangi urusan tertentu. Anggota DPR bekerja dalam komisi sesuai pembagian bidang tugas yang ditetapkan DPR.

Komisi menjadi ruang pembahasan berbagai agenda, mulai dari legislasi, anggaran, hingga pengawasan terhadap mitra kerja pemerintah.

Dalam pelaksanaan fungsi pengawasan, misalnya, DPR dapat menggelar rapat kerja dan rapat dengar pendapat dengan pemerintah maupun pihak terkait. DPR juga dapat menggunakan instrumen seperti Panitia Kerja (Panja), Panitia Khusus (Pansus), tim pengawas atau pemantau, serta kunjungan kerja.

Peran komisi juga terlihat dalam pembahasan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. Pada Juli 2026, misalnya, Komisi VIII DPR membahas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) APBN 2025 bersama sejumlah kementerian dan lembaga sebagai bagian dari fungsi anggaran dan pengawasan.

Apa Itu Fraksi DPR?

Fraksi merupakan pengelompokan anggota DPR berdasarkan partai politik.

Keberadaan fraksi membuat sistem kerja DPR tidak terlepas dari konfigurasi politik di parlemen. Anggota DPR berasal dari partai politik peserta pemilu, sementara sikap politik partai dapat disalurkan melalui fraksi dalam berbagai pembahasan di DPR.

Di sisi lain, keputusan DPR tetap harus diambil melalui mekanisme kelembagaan yang ditentukan oleh konstitusi, undang-undang, dan tata tertib DPR.

Karena itu, dinamika parlemen dapat dilihat dari dua sisi: mekanisme kelembagaan DPR dan konfigurasi politik partai di dalamnya.

Bagaimana RUU Dibuat Menjadi Undang-Undang?

DPR memegang kekuasaan membentuk undang-undang. UUD 1945 mengatur bahwa setiap rancangan undang-undang dibahas oleh DPR dan Presiden untuk memperoleh persetujuan bersama.

Proses pembentukan peraturan perundang-undangan diatur lebih lanjut dalam UU Nomor 12 Tahun 2011 sebagaimana telah diubah, antara lain, dengan UU Nomor 13 Tahun 2022.

UU Nomor 13 Tahun 2022 memperkenalkan dan mengatur lebih lanjut metode omnibus, memperkuat partisipasi masyarakat yang bermakna, serta mengatur pembentukan peraturan perundang-undangan secara elektronik.

Dalam prosesnya, pembentukan undang-undang tidak berhenti pada pembahasan materi di satu forum. Terdapat tahapan perencanaan, penyusunan, pembahasan, persetujuan, pengesahan atau penetapan, hingga pengundangan sesuai jenis peraturan yang dibentuk.

Karena itu, perjalanan sebuah RUU dapat berlangsung melalui berbagai tahap dan forum sebelum menjadi undang-undang.

Apa Itu Hak Interpelasi, Hak Angket, dan Hak Menyatakan Pendapat?

DPR memiliki tiga hak kelembagaan yang disebut secara eksplisit dalam Pasal 20A UUD 1945.

Hak interpelasi merupakan hak DPR untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Hak angket merupakan hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan undang-undang dan/atau kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas.

Sementara hak menyatakan pendapat merupakan hak DPR untuk menyampaikan pendapat atas kebijakan pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di dalam negeri maupun dunia internasional, serta hal lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ketiga hak tersebut memiliki prosedur dan persyaratan masing-masing. Karena itu, penggunaannya tidak sama dengan rapat pengawasan biasa.

Bagaimana DPR Mengawasi Pemerintah?

Fungsi pengawasan DPR mencakup pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang, pelaksanaan keuangan negara, dan kebijakan pemerintah.

Pengawasan dapat dilakukan melalui rapat kerja, rapat dengar pendapat, rapat dengar pendapat umum, kunjungan kerja, Panja, Pansus, tim pengawas atau pemantau, serta instrumen hak DPR.

Dalam praktiknya, pengawasan juga dapat berkaitan dengan tindak lanjut hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Pada 2026, DPR misalnya melakukan pembahasan terhadap LKPP APBN 2025 bersama kementerian dan lembaga mitra kerja untuk mendalami hasil pemeriksaan BPK serta tindak lanjut rekomendasi pemeriksaan.

Artinya, fungsi pengawasan tidak selalu berbentuk penggunaan hak angket atau interpelasi. Sebagian besar aktivitas pengawasan berlangsung melalui mekanisme kerja DPR sehari-hari.

Bagaimana DPR Membahas APBN?

Fungsi anggaran merupakan salah satu fungsi konstitusional DPR.

Pasal 23 UUD 1945 mengatur bahwa rancangan APBN diajukan oleh Presiden untuk dibahas bersama DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD. Jika DPR tidak menyetujui rancangan APBN yang diajukan pemerintah, pemerintah menjalankan APBN tahun sebelumnya.

Dalam prosesnya, pembahasan APBN melibatkan pemerintah dan DPR melalui mekanisme yang telah ditentukan. Komisi DPR membahas anggaran kementerian atau lembaga yang menjadi mitra kerjanya, sementara pembahasan di tingkat Badan Anggaran menjadi bagian dari keseluruhan proses penganggaran.

Karena itu, fungsi anggaran DPR berkaitan langsung dengan bagaimana prioritas belanja negara dibahas dan disetujui.

Bagaimana Anggota DPR Dipilih?

UUD 1945 menyatakan bahwa anggota DPR dipilih melalui pemilihan umum. Peserta pemilu untuk memilih anggota DPR adalah partai politik.

Ketentuan mengenai pemilu diatur lebih lanjut dalam undang-undang pemilu. JDIH KPU mencatat UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum sebagai salah satu dasar hukum penyelenggaraan pemilu, dengan perubahan melalui Perppu Nomor 1 Tahun 2022 yang kemudian ditetapkan menjadi UU Nomor 7 Tahun 2023.

Dalam pemilu legislatif, pemilih memberikan suara di daerah pemilihan. Hasil suara kemudian diproses melalui mekanisme penghitungan untuk menentukan perolehan kursi DPR.

Karena itu, jumlah suara yang diperoleh partai politik tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi jumlah kursi tanpa melalui mekanisme penghitungan yang ditetapkan dalam undang-undang.

Mengapa Ada Suara yang Tidak Menjadi Kursi DPR?

Sistem perwakilan proporsional tidak berarti setiap suara secara otomatis menghasilkan satu kursi.

Perolehan kursi DPR dipengaruhi oleh mekanisme penghitungan suara dan ketentuan mengenai ambang batas parlemen atau parliamentary threshold.

Persoalan suara yang tidak berujung pada kursi menjadi salah satu isu penting dalam pembahasan sistem pemilu Indonesia.

Isu tersebut berkaitan dengan pertanyaan yang lebih luas: bagaimana suara pemilih diterjemahkan menjadi keterwakilan politik di parlemen?

RMTV News dapat mengembangkan pembahasan ini melalui artikel khusus mengenai sejarah parliamentary threshold, suara yang tidak terkonversi menjadi kursi, serta wacana perubahan ambang batas untuk Pemilu 2029.

DPR, Partai Politik, dan Sistem Perwakilan

DPR merupakan titik temu antara representasi politik dan proses pengambilan keputusan negara.

Anggota DPR memperoleh mandat melalui pemilu. Namun setelah berada di parlemen, mereka bekerja dalam struktur kelembagaan yang terdiri atas komisi, badan, fraksi, dan forum pengambilan keputusan.

Partai politik juga memiliki posisi penting karena anggota DPR dipilih melalui pemilu legislatif sebagai peserta pemilu yang berbentuk partai politik.

Karena itu, sistem perwakilan politik Indonesia tidak hanya dapat dipahami dari jumlah kursi yang dimiliki setiap partai. Perlu dilihat pula bagaimana fraksi bekerja, bagaimana komisi menjalankan fungsi pengawasan, bagaimana RUU dibahas, bagaimana anggaran disusun, dan bagaimana keputusan diambil.

Dari Suara Pemilih Menjadi Kebijakan

Rangkaian proses tersebut menunjukkan bahwa perjalanan politik dari pemilih hingga menjadi kebijakan negara berlangsung melalui beberapa tahap.

Pemilih memberikan suara → partai memperoleh suara → kursi DPR terbentuk → anggota masuk fraksi dan alat kelengkapan → DPR menjalankan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan → keputusan politik diterjemahkan menjadi kebijakan dan peraturan.

Setiap tahap memiliki aturan dan mekanisme tersendiri.

Karena itu, memahami cara kerja DPR tidak cukup hanya dengan mengetahui siapa pimpinan atau anggota parlemen. Pemahaman juga membutuhkan pengetahuan mengenai bagaimana lembaga tersebut bekerja dari dalam.

Mengapa Cara Kerja DPR Penting Dipahami?

DPR membahas undang-undang, APBN, dan menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah. Keputusan yang lahir dari proses tersebut dapat berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Pendidikan, kesehatan, investasi, pajak, pembangunan infrastruktur, perlindungan sosial, industri, hingga penegakan hukum dapat memiliki hubungan dengan keputusan legislatif maupun anggaran negara.

Karena itu, memahami DPR pada akhirnya bukan hanya memahami lembaga politik, tetapi juga memahami salah satu mekanisme utama bagaimana keputusan negara dibuat.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.