JAKARTA — Nama Presiden ke-2 RI, Soeharto, kembali menjadi bahan perbincangan publik di media sosial. Kemunculannya beriringan dengan perdebatan mengenai gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, terutama menyangkut ketegasan, kewibawaan, cara berkomunikasi, dan presentasi diri di hadapan masyarakat.

Perbandingan tersebut menarik karena tidak hanya menyoroti kebijakan pemerintahan, melainkan juga menyentuh wilayah persona dan simbol kepemimpinan.

Figur Soeharto kembali dijadikan pembanding karena cara masyarakat membentuk persepsi kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh bagaimana simbol kekuasaan bekerja dalam komunikasi politik.

Kekuasaan, Persona, dan Citra Kepemimpinan

Sosiolog Max Weber membagi legitimasi kekuasaan ke dalam tiga tipe ideal, yakni tradisional, karismatik, dan legal-rasional.

Dalam konsep otoritas karismatik, legitimasi melekat pada kualitas personal seorang pemimpin. Sementara itu, legitimasi legal-rasional bertumpu pada aturan, jabatan, dan prosedur hukum yang berlaku.

Konsep Weber ini menjelaskan mengapa pembicaraan mengenai presiden tidak pernah berhenti pada kewenangan konstitusional semata.

Publik juga memperhatikan secara detail bagaimana kekuasaan tersebut ditampilkan. Elemen seperti ketegasan, kewibawaan, kemampuan berbicara, gestur, hingga penampilan fisik menjadi bagian dari persepsi kepemimpinan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.