Meskipun presiden memiliki kewenangan formal yang bersumber dari konstitusi dan institusi negara, citra kepemimpinan dibentuk melalui proses sosial yang lebih luas, termasuk interaksi langsung maupun tidak langsung dengan publik.
Di sinilah persona politik memegang peranan penting.
Selama 32 tahun berkuasa, Soeharto membangun citra kepemimpinan yang sangat kuat dan identik dengan karakter pemerintahan Orde Baru. Bahasa politiknya cenderung formal dan terukur.
Penampilan kenegaraan, simbol militer, narasi pembangunan, serta stabilitas keamanan menjadi elemen utama dari citra kekuasaan yang dibangun pada masa tersebut.
Namun, memori publik terhadap Soeharto tidak tunggal. Sosoknya juga menjadi bagian dari sejarah yang berkaitan dengan otoritarianisme, pembatasan kebebasan politik, pelanggaran HAM, serta persoalan korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Karena itu, ketika nama Soeharto kembali muncul sebagai referensi, yang hadir bukan hanya figur personalnya, melainkan juga keseluruhan memori politik yang melekat pada masa pemerintahannya.
Ilmuwan politik Murray Edelman menjelaskan bahwa politik tidak hanya berurusan dengan keputusan dan kebijakan, tetapi juga dengan bahasa, citra, simbol, dan persepsi masyarakat.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan