Dalam konteks kepresidenan, sebuah gestur atau ucapan bahkan dapat memperoleh makna politik yang jauh lebih besar daripada tindakan itu sendiri.

Gaya bicara seorang presiden dapat dibaca sebagai bentuk ketegasan atau kelembutan, sementara candaan dapat ditafsirkan sebagai kedekatan atau ketidakformalan.

Bahkan cara presiden tampil di depan kamera mampu membangun kesan tertentu mengenai karakter kepemimpinannya.

Makna-makna tersebut kemudian diperkuat melalui media. Politik tidak hanya berlangsung lewat apa yang dilakukan seorang pemimpin, tetapi juga melalui bagaimana tindakan tersebut diberi arti oleh publik.

Presiden di Era Potongan Video

Perubahan besar terjadi setelah media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan politik. Pada era sebelumnya, masyarakat menerima citra presiden melalui media yang produksinya relatif terpusat.

Saat ini, satu pidato dapat dipotong menjadi durasi beberapa detik dan satu gestur dapat dipisahkan dari konteks aslinya untuk kemudian disebarkan melalui TikTok, Instagram, YouTube, X, Threads, serta berbagai platform digital lainnya.

Dalam ekosistem ini, publik tidak hanya menjadi penerima pesan, tetapi juga ikut memproduksi, memotong, memberi judul, mengomentari, dan menyebarkan ulang konten tersebut.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.