Temuan tersebut menggambarkan adanya pengaruh personal Jokowi dalam preferensi terhadap figur pada Pilkada 2024. Namun, ukuran tersebut tidak secara langsung mengukur perpindahan dukungan dari Jokowi kepada PSI sebagai partai.
Di sisi lain, survei nasional Poltracking Indonesia yang dilakukan pada 14–20 Agustus 2026 menempatkan PSI pada angka 2,3 persen dan PPP 1,9 persen. Survei tersebut melibatkan 1.220 responden di 38 provinsi dengan metode stratified multistage random sampling, tingkat kepercayaan 95 persen, dan margin of error sekitar 2,9 persen. Sebanyak 25,3 persen responden berada dalam kategori tidak tahu atau tidak menjawab.
Angka 2,3 persen tersebut merupakan potret preferensi responden ketika survei dilakukan, bukan hasil Pemilu 2029.
Direktur Eksekutif Politeia Institute Indonesia Marselinus Gual mengatakan pembacaan terhadap “Jokowi Effect” perlu membedakan antara pengaruh personal Jokowi terhadap pilihan politik dan kemampuan pengaruh tersebut dikonversi menjadi suara untuk PSI.
“Data itu menunjukkan bahwa Jokowi Effect bukan sekadar konstruksi politik. Ada pengaruh personal yang terukur. Tetapi harus dibedakan antara Jokowi Effect dalam pemilihan figur dengan Jokowi Effect dalam pemilihan partai,” kata Marselinus dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan