
Kini, Masjid Al Mubarokah telah menjelma menjadi jantung kehidupan desa. Ia bukan hanya tempat bersujud, tetapi juga ruang kebersamaan.
Setiap hari, jamaah disambut dengan teh, kopi, dan hidangan sederhana yang disediakan secara cuma-cuma, menghadirkan suasana kekeluargaan yang hangat.
Di sana, anak-anak yang dahulu menghabiskan waktu bermain, kini duduk rapi belajar mengaji dan tadarus. Kaum ibu pun aktif menghidupkan majelis taklim, menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan spiritual yang hidup.

Bagi Hercules Rozario Marshall, kebahagiaan terbesar bukanlah pada bangunan yang berdiri megah, melainkan pada perubahan yang ia saksikan setiap hari.
Senyum warga, lantunan ayat suci, hingga langkah kaki kecil menuju masjid—semuanya menjadi bukti bahwa niat tulus tak pernah sia-sia.
Ke depan, ia bahkan telah merencanakan perluasan bangunan masjid ke berbagai sisi, agar lebih banyak lagi jamaah yang dapat merasakan keberkahan yang sama.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan