Kenaikan impor mesin mekanis sebesar 15,26 persen serta mesin dan perlengkapan elektrik sebesar 22,94 persen mencerminkan adanya aktivitas persiapan produksi di sektor manufaktur.

Aktivitas manufaktur nasional juga kembali memasuki zona ekspansi. PMI Manufaktur Indonesia meningkat dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September 2026, disertai kenaikan pesanan baru, produksi, pesanan ekspor, pembelian, persediaan input, hingga penyerapan tenaga kerja.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan arah kebijakan pemerintah dalam merespons penguatan indikator tersebut.

“Ke depan, kebijakan Pemerintah akan tetap diarahkan untuk menjaga daya beli, mendorong investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional. Dengan fondasi stabilitas yang terjaga dan aktivitas ekonomi yang kembali menguat, kita ingin memastikan momentum ini berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” ujar Haryo dalam keterangannya di Jakarta, Senin (5/10/2026).

Di tengah optimisme angka-angka indikator tersebut, ekonom Universitas Gadjah Mada Anggito Abimanyu memberikan catatan mendalam mengenai metodologi pembacaan data pertumbuhan ekonomi.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.