Ini merupakan Nested Games yang berlangsung di dalam PSI sendiri.

Yang menarik, hubungan tersebut juga memiliki dimensi keluarga. Kaesang merupakan putra kedua Jokowi, sementara Gibran, putra sulung, berada dalam struktur pemerintahan sebagai Wakil Presiden.

Namun hubungan keluarga tidak dapat secara otomatis diterjemahkan menjadi hubungan institusional. Justru karena itulah batas antara relasi personal dan kewenangan formal menjadi penting untuk diamati.

Pertanyaan analitisnya bukan siapa yang berada di atas siapa, tetapi bagaimana institusi PSI mengatur hubungan antara ketua umum, dewan pembina, dan seluruh organ partai.

Dari Modal Personal ke Modal Institusional

Pada titik ini, istilah “Jokowi Effect” perlu ditempatkan sebagai pertanyaan, bukan kesimpulan.

Jokowi membawa modal politik personal ke dalam PSI. Namun partai membutuhkan lebih dari sekadar popularitas figur.

Modal politik harus diterjemahkan menjadi kapasitas organisasi: kader yang bekerja, struktur daerah yang aktif, komunikasi yang konsisten, kemampuan merekrut pemilih, serta mekanisme pengambilan keputusan yang dapat berjalan tanpa bergantung sepenuhnya pada satu figur.

Di sinilah perbedaan antara personal political capital dan institutional political capital menjadi penting.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.