Istilah tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan pengaruh politik yang melekat pada figur Jokowi melalui pengalaman kepemimpinan, popularitas, jaringan, dan modal simboliknya.

Namun pengalaman Pemilu 2024 memperlihatkan bahwa kekuatan figur dan kekuatan partai merupakan dua hal yang berbeda.

Dalam Pemilu 2024, PSI memperoleh 4.260.108 suara untuk DPR RI dan tidak memenuhi ambang batas parlemen 4 persen. Sementara Gerindra memperoleh 20.071.345 suara dan memenuhi ambang batas tersebut. Data resmi KPU menempatkan keduanya dalam posisi yang berbeda dalam konversi suara menjadi kursi DPR.

Data tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Jokowi tidak memiliki pengaruh politik terhadap PSI. Tetapi data itu menunjukkan persoalan yang berbeda. Bahwa modal personal tidak identik dengan kapasitas institusional partai.

Figur dapat menghadirkan perhatian publik. Tetapi organisasi diperlukan untuk mengubah perhatian tersebut menjadi dukungan politik yang terstruktur.

Karena itu, pertanyaan penting bagi PSI bukan hanya apakah kehadiran Jokowi dapat meningkatkan visibilitas atau elektabilitas partai. Pertanyaannya adalah apakah modal politik Jokowi dapat dilembagakan menjadi kapasitas PSI.

Jika proses itu terjadi, maka yang terbentuk bukan sekadar “Jokowi Effect”, melainkan kapasitas politik PSI yang bekerja melalui struktur, kader, jaringan, komunikasi, dan mesin organisasi.

Lima Arena dalam Nested Games

Melalui kerangka Nested Games, posisi Jokowi di PSI dapat dibaca setidaknya melalui lima arena.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.