Untuk pilihan capres-cawapres, 44,5 persen mengatakan dukungan partai tidak memengaruhi pilihan mereka, sementara 33 persen menyatakan berpengaruh.
Data tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara pilihan terhadap partai dan pilihan terhadap figur tidak bersifat otomatis bagi seluruh pemilih.
Jika berbagai temuan tersebut dibaca secara bersamaan, muncul gambaran mengenai hubungan yang kompleks antara partai, elite, figur kandidat, dan pemilih.
Partai masih memiliki daya elektoral. Gerindra, misalnya, memperoleh 23,2 persen dalam simulasi survei. Hampir separuh responden juga masih menyatakan percaya terhadap keberadaan partai politik.
Namun, hanya 12,3 persen yang merasa dekat atau menjadi bagian dari partai, sedangkan 66,8 persen menyatakan tidak merasa dekat.
Pada saat yang sama, 53,3 persen publik lebih cenderung memilih caleg dibandingkan partai politik. Figur juga menjadi asosiasi kuat bagi sejumlah partai, sementara 57,6 persen responden mengaku tidak mengetahui atau mengenal wakil DPR yang mewakili daerahnya.
Rangkaian data tersebut menunjukkan bahwa kekuatan elektoral, kekuatan figur, dan kedekatan organisasional merupakan tiga dimensi yang berbeda dalam hubungan partai politik dengan publik.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan