Syaifuddin mengatakan narasi mengenai PSI sebagai kekuatan yang mulai ditakuti dan narasi PSI sebagai partai kecil tidak harus diposisikan sebagai pertentangan internal.
Keduanya dapat menunjukkan perbedaan fungsi komunikasi, yakni satu menekankan potensi dan target, sementara yang lain menegaskan posisi aktual dan kebutuhan konsolidasi.
“Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana PSI mengelola dua pesan tersebut. Di satu sisi ada kebutuhan membangun optimisme menuju 2029, tetapi di sisi lain ada kebutuhan menjaga komunikasi politik karena PSI masih berada dalam pemerintahan,” kata Syaifuddin.
Syaifuddin juga menilai aktivitas politik Jokowi sebagai mantan presiden memiliki perhatian publik yang besar dan dapat membentuk persepsi mengenai pusat pengaruh politik di sekitar pemerintahan Prabowo.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan