Pengolahan mineral membutuhkan lokasi yang memiliki akses terhadap energi, pelabuhan, logistik, air industri, jaringan transportasi dan fasilitas pendukung lainnya.
Karena itu, investasi hilirisasi cenderung mendorong terbentuknya kawasan industri yang mengintegrasikan berbagai mata rantai produksi.
Wilayah seperti Sulawesi Tengah dan Maluku Utara menjadi salah satu pusat perkembangan investasi hilirisasi. Pada 2025, Sulawesi Tengah mencatat realisasi investasi hilirisasi terbesar, disusul Maluku Utara dan sejumlah provinsi lainnya.
Pergeseran tersebut membuat hilirisasi memiliki dimensi geografis. Aktivitas industri tidak hanya terkonsentrasi di pusat ekonomi tradisional di Pulau Jawa, tetapi juga berkembang di wilayah yang dekat dengan sumber bahan baku mineral.
Apa Hubungannya dengan Ekspor?
Salah satu tujuan utama hilirisasi adalah mengubah komposisi ekspor.
Sebelum hilirisasi, komoditas dapat diekspor dalam bentuk bahan mentah atau produk dengan tingkat pengolahan rendah. Setelah pengolahan dilakukan di dalam negeri, produk yang keluar dari Indonesia memiliki bentuk dan nilai ekonomi yang berbeda.
Pemerintah menyebut perubahan tersebut sebagai peningkatan nilai tambah.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Februari 2026 menyebut nilai ekspor produk nikel meningkat dari sekitar US$3,3 miliar pada 2018–2019 menjadi sekitar US$34 miliar pada 2024 setelah kebijakan penghentian ekspor bijih nikel diterapkan. Angka tersebut merupakan pernyataan pemerintah mengenai perkembangan nilai ekspor produk nikel.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan