Ia juga menekankan perlunya mekanisme checks and balances dalam koalisi.
Di antara kebutuhan membangun pemerintahan yang efektif dan kebutuhan menjaga mekanisme koreksi itulah persoalan politik menjadi menarik. Sejarah Soekarno menunjukkan bahwa mengumpulkan berbagai kekuatan ke dalam satu konstruksi politik tidak otomatis menghapus konflik kepentingan di antara mereka.
Nasakom bukan sekadar slogan
Nasakom—Nasionalisme, Agama, dan Komunisme—sering dibaca sebagai formula politik Soekarno pada masa Demokrasi Terpimpin. Tetapi akar gagasannya jauh lebih tua.
Dalam pemikiran politiknya pada 1920-an, Soekarno telah berusaha mempertemukan nasionalisme, Islamisme dan Marxisme sebagai tiga arus yang menurutnya dapat menemukan titik temu dalam perjuangan melawan kolonialisme.
Gagasan tersebut kemudian berkembang dan memperoleh bentuk politik yang berbeda ketika Indonesia memasuki masa Demokrasi Terpimpin.
John T. Sidel dalam Republicanism,Communism, Islam: Cosmopolitan Origins of Revolution in Southeast Asia menempatkan gagasan Nasakom dalam sejarah intelektual Soekarno yang panjang. Ia tidak melihat Nasakom semata-mata sebagai formula yang lahir pada penghujung kekuasaan Soekarno, melainkan sebagai bagian dari pencarian politik mengenai hubungan antara nasionalisme, Islam dan komunisme.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan