PKI dan organisasi massa yang berafiliasi dengannya mendorong pelaksanaan land reform secara lebih agresif. Di sejumlah daerah muncul aksi sepihak yang memperuncing konflik dengan pemilik tanah dan kelompok sosial-politik lainnya.

Karena itu, ketegangan menjelang 1965 tidak cukup dibaca sebagai pertentangan ideologis antara Islam dan komunisme. Ada persoalan tanah. Ada perebutan pengaruh. Ada persaingan organisasi massa. Ada hubungan dengan birokrasi dan negara. Semua bertemu dalam situasi politik yang semakin tegang.

Nasakom berusaha menempatkan berbagai kekuatan itu dalam satu kerangka. Tetapi kerangka politik tidak selalu mampu menghilangkan konflik yang hidup di bawahnya.

1965 mengubah keseimbangan

September 1965 menjadi titik balik. Gerakan 30 September menculik dan membunuh sejumlah perwira Angkatan Darat. Setelah itu, terjadi perubahan besar dalam struktur politik Indonesia.

Bagaimana persisnya gerakan tersebut berlangsung, siapa aktor utamanya, dan bagaimana hubungan antaraktor di dalamnya masih menjadi perdebatan dalam historiografi Indonesia.

John Roosa dalam Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’État in Indonesia menempatkan Gerakan 30 September, penghancuran PKI, kekerasan antikomunis dan proses naiknya kekuasaan Soeharto sebagai rangkaian peristiwa yang saling berkaitan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.