Temuan tersebut penting karena menunjukkan perubahan posisi aktor informal.

Jika pada masa tertentu mereka dapat menjadi alat kekuasaan elite, dalam demokrasi mereka juga dapat berkembang sebagai aktor yang memiliki kepentingan politik sendiri.

Dengan demikian, hubungan premanisme dan politik tidak selalu berbentuk hubungan satu arah antara elite dan kelompok jalanan.

Dari Preman ke Organisasi dan Jaringan Pengaruh

Kajian mengenai politik Indonesia pasca-Orde Baru juga menunjukkan bahwa perubahan institusi formal tidak otomatis menghilangkan jaringan informal.

Penelitian Sharon Poczter dan Thomas Pepinsky mengenai warisan otoritarianisme menunjukkan bahwa setelah demokratisasi, mekanisme informal dalam memperoleh pengaruh politik tetap bertahan meskipun struktur formal politik Indonesia berubah.

Penelitian Ward Berenschot mengenai brokerage di Indonesia juga memperlihatkan bagaimana aktor perantara dapat menjadi penghubung antara masyarakat dengan politisi dan birokrasi. Jaringan semacam itu dapat memengaruhi akses terhadap sumber daya publik dan hubungan antara warga dengan negara.

Broker politik tentu tidak sama dengan preman. Perbedaannya penting. Namun keduanya menunjukkan satu karakter yang sama: kekuasaan tidak selalu bekerja melalui institusi formal.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.