Satu tindakan yang sama dapat dilabeli sebagai tindakan yang tegas atau keras. Gaya komunikasi yang sama bisa disebut santai atau tidak formal.
Penampilan yang sama dapat dinilai sebagai sikap merakyat atau justru populis.
Perbedaan label tersebut menunjukkan bahwa realitas politik hadir melalui wacana yang mengelilingi sebuah peristiwa.
Ketika sebuah frame diulang terus-menerus, ia dapat menjadi cara dominan publik dalam membaca seorang pemimpin.
Ketika Masa Lalu Menjadi Cermin
Soeharto kemudian berfungsi sebagai semacam cermin politik, yang digunakan bukan semata-mata untuk mengembalikan masa lalu, melainkan untuk memahami keadaan hari ini.
Ketika sebagian publik menggunakan Soeharto sebagai pembanding, yang sedang berlangsung adalah pencarian referensi mengenai bagaimana seorang presiden seharusnya tampil di hadapan publik.
Dalam cermin tersebut, terdapat dua memori yang hidup secara bersamaan: citra Soeharto sebagai sosok yang tegas, formal, dan kuat, serta catatan sejarah panjang Orde Baru terkait kebebasan politik, demokrasi, dan HAM.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana memori politik dapat digunakan secara selektif.
Masyarakat dapat memilih bagian tertentu dari masa lalu untuk menjelaskan persoalan yang sedang dihadapi pada masa kini, tanpa otomatis berarti menerima keseluruhan sistem politik masa lalu.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan