JAKARTA – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengingatkan adanya perubahan pola perlawanan dalam konflik Papua yang mulai bergeser ke sentimen etnis dan rasial.

Menurut Pigai, perubahan tersebut perlu diantisipasi karena berpotensi berkembang menjadi konflik horizontal di tengah masyarakat.

Pigai menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Ia mengatakan, pola perlawanan di Papua telah mengalami sejumlah perubahan sejak dekade 1960-an.

“Yang mengagetkan saya, perlawanan di Papua geser ke perlawanan di atas dasar rasisme, etnik, dan ras. Kalau perlawanan atas dasar karena perbedaan etnik, ras, suku, dan agama, maka ini tidak bisa dianggap remeh,” kata Pigai.

Menurut Pigai, pada dekade 1960-an perlawanan di Papua berlangsung melalui gerakan bersenjata secara sporadis.

Setelah Kongres Nasional Rakyat Papua pada 2000, gerakan berkembang dalam dua poros, yakni perlawanan bersenjata oleh TPN-OPM dan jalur diplomasi politik yang dilakukan kalangan intelektual.

Perkembangan berikutnya, kata Pigai, ditandai dengan internasionalisasi isu Papua melalui berbagai forum global dan organisasi internasional. Setelah itu muncul pula pola gerakan bawah tanah di wilayah perkotaan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.