Site icon RMTVNEWS.COM

Elektabilitas Parpol Tinggi, Kedekatan Rendah: Ada Jarak Elite dan Pemilih!

Elektabilitas Parpol Tinggi, Kedekatan Rendah: Ada Jarak Elite dan Pemilih!

Kolase ketua umum sejumlah partai politik di Indonesia. Survei Poltracking menunjukkan elektabilitas partai masih cukup kuat, sementara kedekatan publik dengan partai politik relatif rendah. Foto: RMTVNews.com

JAKARTA — Elektabilitas partai politik tidak selalu berjalan seiring dengan kedekatan publik terhadap partai. Survei Poltracking Indonesia mencatat 49,7 persen masyarakat masih percaya terhadap keberadaan partai politik. Namun, hanya 12,3 persen yang merasa dekat atau menjadi bagian dari partai.

Sebaliknya, 66,8 persen responden menyatakan tidak merasa dekat dengan partai politik.

Temuan tersebut muncul bersamaan dengan elektabilitas sejumlah partai yang masih cukup kuat.

Dalam simulasi 18 partai politik, Gerindra berada di posisi teratas dengan elektabilitas 23,2 persen, disusul PDI Perjuangan 11,6 persen dan Golkar 10,4 persen.

Survei Poltracking dilakukan pada 14–20 Agustus 2026 terhadap 1.220 responden di 38 provinsi. Survei menggunakan metode stratified multistage random sampling, dengan margin of error sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Perbedaan antara kepercayaan dan kedekatan menjadi salah satu temuan penting survei.

Poltracking mencatat 49,7 persen responden masih percaya terhadap keberadaan partai politik, sedangkan 37,1 persen menyatakan tidak percaya.

Namun ketika ditanya mengenai kedekatan, hanya 12,3 persen yang merasa dekat dengan partai politik, sementara 66,8 persen menyatakan tidak merasa dekat.

Dengan demikian, kepercayaan terhadap partai sebagai institusi politik berada pada tingkat yang berbeda dengan keterikatan publik terhadap organisasi partai.

Temuan tersebut menjadi penting karena elektabilitas partai dalam survei tetap menunjukkan angka yang relatif tinggi, meski kedekatan organisasional dengan masyarakat rendah.

Figur Menjadi Alasan Memilih Partai

Peneliti Poltracking Indonesia Yoki Alvetro mengatakan kecenderungan publik memilih figur calon legislatif menjadi salah satu catatan bagi partai politik.

Dalam survei tersebut, 53,3 persen responden menyatakan lebih cenderung memilih calon anggota legislatif, sedangkan 24,7 persen lebih cenderung memilih partai politik.

“Figur dari tokoh-tokoh partai politik, calon-calon dari partai politik itu lebih cenderung menjadi alasan publik untuk memilih partai politik, karena kecenderungan dari caleg-calegnya,” ujar Yoki.

Menurut Yoki, temuan tersebut menjadi catatan bagi partai untuk memperkuat kelembagaan sekaligus meningkatkan kualitas dan popularitas calon legislatif yang mereka usung.

Faktor keluarga menjadi alasan yang paling banyak disebut ketika responden ditanya mengenai alasan memilih partai, yakni 8,8 persen.

Berikutnya, 6,8 persen menyebut menyukai pimpinan atau ketokohan partai, 5,9 persen menyebut kinerja kader, dan 5,8 persen menyebut cara kampanye yang kreatif.

Gerindra Teratas, tetapi Angkanya Turun

Gerindra menjadi partai dengan elektabilitas tertinggi dalam simulasi 18 partai pada survei Agustus 2026 dengan angka 23,2 persen.

Di bawahnya terdapat PDIP 11,6 persen, Golkar 10,4 persen, PKB 6,2 persen, Demokrat 6,1 persen, NasDem 4,4 persen, PAN 3,4 persen, PKS 3,3 persen, PSI 2,3 persen, dan PPP 1,9 persen. Partai lainnya berada di bawah 1 persen.

Namun, angka tersebut perlu dibaca sebagai potret pada saat survei dilakukan, bukan sebagai ukuran permanen kekuatan partai.

Poltracking menyebut persepsi dan preferensi publik masih dapat berubah mengikuti perkembangan isu dan strategi masing-masing partai.

Kuatnya peran figur juga terlihat dari pertanyaan top of mind mengenai asosiasi publik terhadap partai politik.

Untuk Gerindra, Prabowo Subianto menjadi nama yang paling banyak dikaitkan dengan partai tersebut, yakni 26,1 persen.

PDIP paling banyak diasosiasikan dengan Megawati Soekarnoputri sebesar 17 persen, Demokrat dengan Susilo Bambang Yudhoyono 16 persen, dan NasDem dengan Surya Paloh 11 persen.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa figur politik masih menjadi bagian penting dari cara publik mengenali sejumlah partai.

Namun, data tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kekuatan figur telah menggantikan mesin organisasi partai.

Elektabilitas partai, popularitas kandidat, jaringan organisasi, kinerja kader, isu politik, serta strategi kampanye dapat bekerja secara bersamaan.

Pemilih Memilih Caleg, tetapi Wakilnya Tak Selalu Dikenal

Kontras lain terlihat ketika survei mengukur hubungan publik dengan anggota DPR.

Sebanyak 57,6 persen responden mengatakan tidak tahu atau tidak mengenal anggota DPR RI yang mewakili daerahnya. Hanya 26,2 persen yang menyatakan tahu atau mengenal wakilnya.

Temuan ini menarik karena pada saat yang sama mayoritas responden lebih cenderung memilih caleg daripada partai.

Artinya, preferensi terhadap figur kandidat ketika pemilu tidak otomatis menunjukkan adanya hubungan politik yang kuat dengan wakil yang kemudian duduk di parlemen.

Di sini terlihat adanya dua fase yang berbeda: figur dapat menjadi pintu masuk pemilih dalam menentukan pilihan, tetapi hubungan antara wakil dan pemilih setelah pemilu belum tentu terbentuk secara kuat.

Survei Poltracking juga menunjukkan bahwa dukungan partai kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden tidak selalu menjadi faktor penentu pilihan.

Sebanyak 44,6 persen responden mengatakan dukungan partai terhadap pasangan capres-cawapres tidak memengaruhi pilihan mereka terhadap partai, sedangkan 32,8 persen menyatakan berpengaruh.

Untuk pilihan capres-cawapres, 44,5 persen mengatakan dukungan partai tidak memengaruhi pilihan mereka, sementara 33 persen menyatakan berpengaruh.

Data tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara pilihan terhadap partai dan pilihan terhadap figur tidak bersifat otomatis bagi seluruh pemilih.

Jika berbagai temuan tersebut dibaca secara bersamaan, muncul gambaran mengenai hubungan yang kompleks antara partai, elite, figur kandidat, dan pemilih.

Partai masih memiliki daya elektoral. Gerindra, misalnya, memperoleh 23,2 persen dalam simulasi survei. Hampir separuh responden juga masih menyatakan percaya terhadap keberadaan partai politik.

Namun, hanya 12,3 persen yang merasa dekat atau menjadi bagian dari partai, sedangkan 66,8 persen menyatakan tidak merasa dekat.

Pada saat yang sama, 53,3 persen publik lebih cenderung memilih caleg dibandingkan partai politik. Figur juga menjadi asosiasi kuat bagi sejumlah partai, sementara 57,6 persen responden mengaku tidak mengetahui atau mengenal wakil DPR yang mewakili daerahnya.

Rangkaian data tersebut menunjukkan bahwa kekuatan elektoral, kekuatan figur, dan kedekatan organisasional merupakan tiga dimensi yang berbeda dalam hubungan partai politik dengan publik.

Bagi elite partai, persoalannya bukan semata-mata memperoleh suara, tetapi juga bagaimana membangun hubungan yang lebih berkelanjutan dengan pemilih setelah kontestasi elektoral berakhir.

Poltracking menegaskan bahwa hasil survei merupakan gambaran kondisi pada pertengahan Agustus 2026.

Preferensi publik masih dapat berubah mengikuti perkembangan isu dan langkah strategis yang dilakukan masing-masing partai politik.

Survei Poltracking Indonesia mencatat 49,7 persen publik masih percaya partai politik, tetapi hanya 12,3 persen merasa dekat. Figur caleg juga lebih dipilih dibandingkan partai.

 

Exit mobile version