JAKARTA, RMTVNews.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)!dibayangi ketidakpastian menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Pelaku pasar mencermati arah suku bunga acuan di tengah tekanan eksternal dari dinamika harga minyak mentah dunia dan imbal hasil obligasi AS.

Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi, rupiah tercatat di level Rp17.992 per dolar AS, tidak mengalami perubahan dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan rupiah berpotensi melemah karena pelaku pasar mengantisipasi keputusan Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada siang hari.

“Rupiah hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh domestik antisipasi hasil keputusan RDG BI siang nanti,” kata Rully di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Perhatian utama pasar tertuju pada arah kebijakan suku bunga acuan. Sebagian pelaku pasar mengantisipasi kemungkinan BI mempertahankan suku bunga atau menaikkannya sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen.

Namun, Rully memproyeksikan BI akan memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen guna menjaga daya beli masyarakat.

Di sisi lain, arah kebijakan moneter domestik juga dipengaruhi oleh perkembangan suku bunga di Amerika Serikat.

Terdapat perkiraan bahwa Federal Reserve berpotensi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,25 persen pada 28 Oktober mendatang.

Langkah The Fed ini menjadi perhatian penting karena perubahan tingkat bunga AS dapat memengaruhi daya tarik aset keuangan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Sebelum pengumuman ini, proyeksi pasar terhadap langkah BI sendiri masih beragam antara mempertahankan atau menaikkan suku bunga demi menjaga stabilitas rupiah.

Selain sentimen suku bunga, tekanan eksternal juga dipicu oleh pergerakan harga minyak global dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Rully menyebut harga minyak yang masih tinggi meningkatkan ekspektasi inflasi global dan imbal hasil obligasi AS atau US Treasury yield.

Mengutip Anadolu, harga minyak mentah Brent turun sekitar 3 persen pada perdagangan Selasa menjadi sekitar 106 dolar AS per barel.

Harga tersebut berbalik turun setelah sempat mendekati 112 dolar AS per barel dalam sesi perdagangan yang sama.

Pergerakan harga minyak menjadi perhatian karena dapat memengaruhi tekanan inflasi global dan biaya energi, sementara perubahan imbal hasil obligasi AS memengaruhi keputusan investor dalam menempatkan modal di pasar internasional.

Keputusan BI mengenai suku bunga acuan kini menjadi penentu utama pergerakan rupiah di pasar domestik, meski arah nilai tukar secara keseluruhan tetap dibentuk oleh kombinasi kebijakan moneter, kondisi ekonomi, dan sentimen global.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.