JAKARTA, RMTVNews.com — Perbedaan mencolok terjadi pada hasil survei elektabilitas Presiden Prabowo Subianto yang dirilis dua lembaga riset, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Parameter Politik Indonesia (PPI).

SMRC mencatat angka elektabilitas Prabowo merosot hingga 9,8 persen, sementara PPI justru merekam tingkat keterpilihan Prabowo masih berada di posisi puncak dengan angka 31,6 persen.

Perbedaan angka yang cukup signifikan ini tak lepas dari perbedaan metode kuesioner dan simulasi yang digarap oleh masing-masing lembaga.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Saduddin, mengungkapkan bahwa dominasi keterpilihan Prabowo dalam survei lembaganya tercermin kuat dalam simulasi pertanyaan terbuka (top of mind), di mana responden secara spontan menyebutkan nama tokoh tanpa disodori pilihan daftar nama.

“Dalam pertanyaan terbuka, Prabowo Subianto menempati posisi teratas dengan angka 31,6 persen,” ujar Saduddin saat memaparkan rilis survei nasional PPI secara daring, Minggu (18/10/2026).

Saduddin menambahkan bahwa posisi Prabowo sebagai petahana serta persepsi kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah turut memperkuat keterpilihan spontan tersebut.

“Ini menunjukkan bahwa memori kolektif masyarakat terhadap figur kepemimpinan nasional saat ini masih sangat dominan tertuju pada sosok Presiden,” tuturnya menegaskan alasan di balik kokohnya elektabilitas Prabowo di versi PPI.

Kondisi sebaliknya terekam dalam temuan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Lembaga ini menyodorkan simulasi semi-terbuka dengan menyajikan daftar 24 nama kandidat secara eksplisit kepada responden. Direktur Riset SMRC, Deni Irvani, membeberkan bahwa ketika responden disodorkan pilihan figur yang konkret, konstelasi suara terpecah cukup drastis.

“Dalam tujuh bulan, elektabilitas Prabowo menurun, dari 33,3% di survei Februari-Maret 2026 menjadi 9,8% di survei Oktober 2026. Sementara di periode yang sama elektabilitas Dedi Mulyadi naik, dari 23,3% menjadi 35,5%,” ujar Deni Irvani merujuk pada laporan hasil riset SMRC.

Pergeseran elektabilitas dalam simulasi SMRC tersebut dipicu oleh sentimen publik terkait evaluasi masa pemerintahan.

Menurut Deni, tren penurunan elektabilitas tersebut sejalan dengan dinamika penilaian publik di lapangan.

“Penurunan tersebut berlanjut hingga Oktober dan belum menunjukkan tanda pemulihan dalam hasil survei terbaru. Tren itu sejalan dengan penurunan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah,” tutur Deni Irvani.

Meskipun jadwal survei kedua lembaga berdekatan—PPI pada 26 September hingga 6 Oktober dan SMRC pada 1 hingga 10 Oktober 2026—serta sama-sama menerapkan metode multistage random sampling dengan toleransi kesalahan (margin of error) sekitar 2,8 hingga 2,9 persen, perbedaan instrumen pengumpulan data terbukti menghasilkan gambaran peta politik yang kontras.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pola dukungan pemilih sangat sensitif terhadap format pertanyaan terbuka (unprompted) versus simulasi daftar nama (prompted).

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.