Pemilih berhadapan dengan nama, rekam aktivitas, jaringan sosial, maupun kampanye kandidat secara langsung, bukan hanya dengan simbol kelembagaan partai.

Faktor Keluarga dan Ketokohan

Survei juga memotret alasan yang membuat seseorang memilih partai politik. Faktor keluarga menjadi alasan yang paling banyak disebut, yakni 8,8 persen.

Berikutnya, sebanyak 6,8 persen menyebut menyukai pimpinan atau ketokohan partai, 5,9 persen menyebut kinerja kader, dan 5,8 persen menyebut cara kampanye yang kreatif.

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa unsur personal dan jaringan sosial tetap memiliki tempat dalam perilaku elektoral. Ketokohan pimpinan dan figur kandidat dapat menjadi pintu masuk bagi pemilih untuk mengenali atau menentukan pilihan politik.

Ironi: Memilih Caleg, tetapi Tak Mengenal Wakilnya

Ada temuan lain yang membuat persoalan figur ini menjadi lebih kompleks.

Sebanyak 57,6 persen responden mengatakan tidak tahu atau tidak mengenal anggota DPR RI yang mewakili daerah mereka. Hanya 26,2 persen yang menyatakan tahu atau mengenal wakilnya di DPR.

Artinya, kecenderungan memilih caleg tidak otomatis berarti pemilih memiliki hubungan yang kuat dengan wakil yang akhirnya terpilih.

Seorang kandidat bisa menjadi faktor penting saat pemilu, tetapi setelah pemilu hubungan antara wakil dan pemilih belum tentu berlanjut dalam bentuk pengenalan atau kedekatan politik.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.