Dalam perspektif etika, persoalannya bukan hanya apakah suatu tindakan diperbolehkan, tetapi juga apakah tindakan tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada publik.
Bagi partai politik, pertanggungjawaban itu menjadi lebih penting karena jabatan di dalam partai tidak hanya menyangkut kepentingan internal organisasi. Partai merupakan institusi politik yang ikut menentukan arah kekuasaan dan kebijakan publik.
Karena itu, standar etik semestinya tidak berhenti pada pertanyaan apakah seseorang sudah selesai menjalani hukuman. Ada pertanyaan yang lebih jauh: apakah rekam jejak masa lalu masih relevan untuk menentukan tingkat kepercayaan yang diberikan kepadanya?
Fahd Bukan Akhir dari Persoalan
Karena itu, kasus Fahd Arafiq sebaiknya tidak dibaca sebagai tudingan terhadap Partai Golkar semata. Golkar berada dalam konteks kasus ini karena Fahd adalah kadernya. Tetapi fenomenanya lebih luas.
Ada banyak contoh dalam perjalanan politik Indonesia mengenai orang yang pernah tersandung perkara korupsi kemudian kembali aktif dalam politik. Itu menunjukkan bahwa persoalan ini berkaitan dengan hubungan yang lebih besar antara hukum, partai dan karier politik.
Fahd menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan tersebut. Idrus menjadi contoh lain mengenai apa yang terjadi setelah seseorang menyelesaikan hukuman.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan