Temuan itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa politik figur sedang menguat secara struktural. Tetapi ia menunjukkan bahwa figur caleg merupakan variabel penting dalam preferensi pemilih.

Jangan hanya menyederhanakan partai

Analisis politik media dan Direktur Eksekutif Politeia Institute Indonesia, Marselinus Gual, membaca persoalan PT 5 persen dari hubungan antara desain kompetisi, representasi suara, dan kualitas kerja parlemen.

Menurut Marselinus, ambang batas tidak seharusnya dibahas hanya sebagai instrumen untuk mengurangi jumlah partai di DPR.

“PT 5 persen bukan sekadar soal angka. Ia adalah desain tentang siapa yang diberi akses ke ruang representasi politik dan bagaimana suara pemilih dikonversi menjadi kekuasaan di parlemen,” kata Marselinus.

Dalam konteks survei Poltracking, ia melihat adanya persoalan yang perlu diperhatikan pembentuk undang-undang.

Jika pemilih lebih mempertimbangkan figur caleg, sementara threshold diterapkan terhadap partai, maka RUU Pemilu harus memastikan mekanisme tersebut tetap menghasilkan representasi yang proporsional.

“Pemilih bisa memilih figur, tetapi pintu masuk ke Senayan tetap ditentukan oleh performa partai melewati threshold. Di titik ini ada persoalan desain, jangan sampai suara yang diberikan kepada kandidat pada akhirnya kehilangan representasi hanya karena partainya berada di bawah ambang batas,” ujar Marselinus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.