JAKARTA — Pemilih dalam pemilu legislatif (pileg) tampaknya lebih banyak menimbang sosok calon dibandingkan identitas partai politik. Survei Poltracking Indonesia menunjukkan 53,3 persen responden lebih cenderung memilih calon anggota legislatif (caleg), sementara hanya 24,7 persen yang lebih cenderung memilih partai politik (parpol).
Temuan ini membuka pertanyaan mengenai semakin pentingnya figur dalam mesin politik elektoral, apakah partai politik kini lebih bergantung pada daya tarik calon yang mereka usung dibandingkan kekuatan institusi dan identitas partai?
Poltracking merilis hasil survei nasional tersebut pada 23 September 2026. Survei dilakukan pada 14–20 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.220 responden di 38 provinsi.
Pengambilan sampel menggunakan metode stratified multistage random sampling, dengan margin of error ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Figur Lebih Dekat dengan Pemilih
Peneliti Poltracking Indonesia Yoki Alvetro mengatakan kecenderungan pemilih terhadap caleg menjadi salah satu catatan bagi partai politik, terutama dalam menyiapkan kandidat yang akan bertarung dalam pemilihan legislatif.
“Figur dari tokoh-tokoh partai politik, calon-calon dari partai politik itu lebih cenderung menjadi alasan publik untuk memilih partai politik, karena kecenderungan dari caleg-calegnya,” kata Yoki dalam pemaparan hasil survei.
Data tersebut memperlihatkan adanya perbedaan antara pilihan terhadap figur dan pilihan terhadap institusi partai.
Sebanyak 53,3 persen responden menyatakan lebih cenderung memilih caleg, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 24,7 persen yang menyatakan lebih cenderung memilih partai politik.
Namun, angka tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa mesin politik berbasis figur telah menggantikan peran partai.
Data survei hanya menunjukkan kecenderungan preferensi responden dalam memilih pada Pileg.
Ketika Identitas Partai Tidak Cukup
Temuan tersebut menjadi menarik jika dibaca bersama dengan tingkat kedekatan publik terhadap partai politik.
Poltracking mencatat hanya 12,3 persen responden yang merasa dekat atau menjadi bagian dari partai politik.
Sebaliknya, 66,8 persen menyatakan tidak merasa dekat dengan partai politik.
Meski demikian, tingkat kepercayaan terhadap keberadaan partai masih mencapai 49,7 persen, sedangkan 37,1 persen menyatakan tidak percaya.
Dengan kata lain, keberadaan partai masih diterima oleh sebagian besar publik, tetapi kedekatan organisasional dengan partai relatif rendah.
Dalam kondisi tersebut, figur caleg dapat menjadi titik temu yang lebih konkret antara partai dan pemilih.
Pemilih berhadapan dengan nama, rekam aktivitas, jaringan sosial, maupun kampanye kandidat secara langsung, bukan hanya dengan simbol kelembagaan partai.
Faktor Keluarga dan Ketokohan
Survei juga memotret alasan yang membuat seseorang memilih partai politik. Faktor keluarga menjadi alasan yang paling banyak disebut, yakni 8,8 persen.
Berikutnya, sebanyak 6,8 persen menyebut menyukai pimpinan atau ketokohan partai, 5,9 persen menyebut kinerja kader, dan 5,8 persen menyebut cara kampanye yang kreatif.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa unsur personal dan jaringan sosial tetap memiliki tempat dalam perilaku elektoral. Ketokohan pimpinan dan figur kandidat dapat menjadi pintu masuk bagi pemilih untuk mengenali atau menentukan pilihan politik.
Ironi: Memilih Caleg, tetapi Tak Mengenal Wakilnya
Ada temuan lain yang membuat persoalan figur ini menjadi lebih kompleks.
Sebanyak 57,6 persen responden mengatakan tidak tahu atau tidak mengenal anggota DPR RI yang mewakili daerah mereka. Hanya 26,2 persen yang menyatakan tahu atau mengenal wakilnya di DPR.
Artinya, kecenderungan memilih caleg tidak otomatis berarti pemilih memiliki hubungan yang kuat dengan wakil yang akhirnya terpilih.
Seorang kandidat bisa menjadi faktor penting saat pemilu, tetapi setelah pemilu hubungan antara wakil dan pemilih belum tentu berlanjut dalam bentuk pengenalan atau kedekatan politik.
Mesin Partai atau Mesin Figur?
Temuan Poltracking juga menunjukkan bahwa figur memiliki peran kuat dalam cara publik mengenali partai.
Dalam pertanyaan top of mind, nama Prabowo Subianto menjadi asosiasi yang paling banyak muncul ketika responden mendengar Partai Gerindra, yakni 26,1 persen.
Pada PDIP, nama Megawati Soekarnoputri disebut 17 persen responden, sedangkan Partai Demokrat paling banyak diasosiasikan dengan Susilo Bambang Yudhoyono sebesar 16 persen. NasDem diasosiasikan dengan Surya Paloh sebesar 11 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa figur politik masih menjadi bagian penting dari identitas yang melekat pada sejumlah partai.
Pada saat yang sama, Gerindra mencatat elektabilitas tertinggi dalam simulasi 18 partai dengan 23,2 persen, disusul PDIP 11,6 persen dan Golkar 10,4 persen.
Namun, survei tersebut tidak menyimpulkan bahwa elektabilitas partai tertentu semata-mata disebabkan oleh figur.
Hubungan antara popularitas figur, kekuatan organisasi, kinerja kader, isu politik, dan strategi kampanye membutuhkan analisis lebih lanjut.
Yang terlihat dari survei adalah perubahan titik perhatian pemilih: ketika ditanya mengenai kecenderungan pilihan dalam Pileg, figur caleg lebih banyak disebut dibandingkan partai politik.
Bagi partai politik, kondisi ini membuat kualitas kandidat menjadi bagian penting dari strategi elektoral. Tetapi pada saat yang sama, rendahnya kedekatan publik dengan partai dan masih tingginya jumlah pemilih yang tidak mengenal wakilnya di DPR menunjukkan bahwa tantangannya bukan sekadar memenangkan suara, melainkan membangun hubungan politik setelah suara diperoleh.
Poltracking menegaskan bahwa hasil survei merupakan potret kondisi elektoral pada pertengahan Agustus 2026 dan persepsi publik masih dapat berubah mengikuti perkembangan isu serta langkah strategis yang diambil partai politik.
Survei Poltracking mencatat 53,3 persen publik lebih cenderung memilih caleg dibandingkan partai politik yang hanya 24,7 persen. Apakah mesin politik berbasis figur menguat?
Caleg, Partai Politik, Poltracking, Pemilih, Pileg, Figur Politik, Mesin Politik, Elektoral, DPR, Politik Indonesia
Kategori: Elite
Ilustrasi pemungutan suara dalam Pemilu Legislatif. Survei Poltracking mencatat 53,3 persen responden lebih cenderung memilih calon legislatif dibandingkan partai politik.

