JAKARTA, RMTVNews.com — Elektabilitas Presiden Prabowo Subianto tercatat 22,7 persen dalam simulasi pemilihan presiden dengan tiga nama tanpa menyertakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM). Dalam simulasi yang sama, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memperoleh 29,7 persen, sedangkan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meraih 28,2 persen.

Temuan tersebut berasal dari survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang diperbarui berdasarkan pengumpulan data pada 1–10 Oktober 2026. Sebanyak 19,4 persen responden belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban.

Simulasi ini menguji posisi Prabowo apabila Dedi Mulyadi, yang merupakan kader Partai Gerindra, tidak ikut dalam persaingan pemilihan presiden.

Skenario tersebut relevan dengan kemungkinan Prabowo kembali diusung Gerindra, sehingga keduanya tidak berhadapan sebagai kandidat dalam pemilihan yang sama.

Dalam paparan hasil survei, SMRC menguji apakah dukungan kepada Dedi akan beralih kepada Prabowo apabila nama Gubernur Jawa Barat tersebut tidak masuk dalam simulasi.

Hasilnya, Prabowo memperoleh dukungan lebih rendah dibandingkan Gibran dan AHY.

Selisih dukungan Gibran dan AHY hanya 1,5 poin persentase. Sementara itu, selisih antara Gibran dan Prabowo mencapai 7 poin persentase, sedangkan AHY unggul 5,5 poin persentase atas Prabowo.

Dengan margin of error survei sekitar 2,9 persen, selisih Gibran dan AHY perlu dibaca secara hati-hati.

Angka tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa dukungan kepada salah satu dari keduanya secara meyakinkan lebih tinggi daripada yang lain.

Elektabilitas Dedi Mulyadi Mencapai 35,5 Persen

Selain simulasi tiga nama tanpa Dedi Mulyadi, SMRC menguji pilihan responden melalui simulasi semi terbuka dengan 24 nama calon presiden.

Dalam simulasi tersebut, Dedi memperoleh dukungan 35,5 persen. Anies Baswedan berada di urutan berikutnya dengan 10,3 persen, disusul Prabowo sebesar 9,8 persen dan Gibran 8,4 persen.

Sebanyak 13,9 persen responden belum menentukan pilihan atau tidak menjawab.

SMRC juga menguji simulasi yang mempertemukan Dedi dan Prabowo sebagai dua pilihan.

Hasilnya, Dedi memperoleh dukungan 69,3 persen, sedangkan Prabowo meraih 18,8 persen. Sebanyak 12 persen responden tidak tahu atau tidak menjawab.

Hasil tersebut berbeda dari survei Februari–Maret 2026. Pada periode itu, Prabowo memperoleh dukungan 50,5 persen dalam simulasi dua nama, sementara Dedi meraih 42,6 persen.

Pada Juli 2026, posisi keduanya berbalik. Dukungan kepada Dedi tercatat 59 persen, sedangkan Prabowo memperoleh 28,3 persen.

Dalam survei Oktober, selisih dukungan keduanya kembali melebar.

Perubahan itu tercermin dalam rangkaian simulasi yang dilakukan SMRC. Namun, hasil simulasi dua nama, tiga nama, dan semi terbuka dengan 24 nama merupakan pengukuran yang berbeda sehingga angkanya tidak dapat dipertukarkan secara langsung.

Dukungan Pemilih Partai kepada Prabowo

Survei SMRC juga mengukur pilihan calon presiden berdasarkan partai politik yang dipilih responden.

Dalam simulasi semi terbuka, sebanyak 20 persen responden yang memilih Gerindra menyatakan memilih Prabowo.

Sebanyak 74 persen memilih calon lain, sementara 6 persen tidak tahu atau tidak menjawab.

Di kalangan pemilih Golkar, dukungan kepada Prabowo tercatat 17 persen. Pada kelompok pemilih NasDem, angkanya 11 persen.

Sementara itu, di antara pemilih Demokrat, dukungan kepada Prabowo mencapai 6 persen.

Survei nasional SMRC mencakup warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih, yakni berusia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

Total responden yang diwawancarai sebanyak 1.213 orang. Sebanyak 1.013 responden yang memiliki telepon seluler dipilih menggunakan metode double sampling dan diwawancarai melalui telepon.

Sebanyak 200 responden yang tidak memiliki telepon seluler dipilih menggunakan metode stratified multistage random sampling dan diwawancarai secara tatap muka.

SMRC memperkirakan margin of error survei sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, dengan asumsi pengambilan sampel acak sederhana.

Hasil survei tersebut merupakan gambaran pilihan responden pada periode pengumpulan data, bukan prediksi pasti mengenai hasil pemilihan presiden mendatang.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.