Konteks itu pula yang membuat pembahasan mengenai magis muncul dalam kajian tentang Banten.
M.A. Tihami meneliti hubungan antara kyai, jawara, agama, magi dan kepemimpinan di Banten. Kajian tersebut menempatkan kyai dan jawara bukan sekadar sebagai figur budaya, tetapi sebagai bagian dari kepemimpinan informal masyarakat.
Kajian yang lebih baru oleh Ayatullah Humaeni, Sami’an Hadisaputra, Eka Julaiha dan Muhammad Afif memperluas persoalan itu melalui konsep magic, religion and authority.
Penelitian yang terbit dalam Tsaqofah pada 2025 tersebut membahas praktik magi yang dilakukan kyai dan jawara serta kaitannya dengan upaya memperoleh dan mempertahankan otoritas dalam masyarakat Banten.
Di sinilah debus Suyudi dapat dibaca secara lebih proporsional. Debus tidak membuktikan adanya kekuatan supranatural yang menghubungkan Banten dengan kursi Kapolri.
Yang lebih menarik adalah fungsi simboliknya. Keberanian, kemampuan fisik, karisma, simbol budaya dan interaksi dengan masyarakat dapat menjadi bagian dari konstruksi kewibawaan seorang pemimpin.
Ketika Suyudi turun dari kursi kehormatan, bergabung dengan pemain debus dan kemudian mengaitkan bela diri dengan identitas masyarakat Banten, yang terlihat adalah perjumpaan antara pejabat negara dengan simbol budaya lokal.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan